Teman ku pernah nyeletuk kalau mengumpamakan tim nasional maka golkar itu tim panser Jerman, bagaimana pun situasinya selalu bisa finish, minimal di semifinal, apalagi kalau hanya soal ketua umumnya ditangkap, sepertinya tidak ngaruh pada elektabilitasnya.

Golkar sebagai partai paling senior saat ini, sepertinya sudah tahan disegala kondisi, hujan mau pun kemarau golkar tetap berdiri tegak, daunnya tetap rimbun, seperti lambangnya itu sendiri pohon beringin.

Tulisan ini mencoba melihat partai Golkar terhadap berbagai tantangan yang dihadapinya baik secara eksternal maupun intenal pasca tertangkapnya sang ketua umum.

Faktor Eksternal

Golkar sebagai mesin politik memang telah teruji kehandalanya selama 32 tahun orde baru, bahkan ketika krisis yang paling parah sekalipun misalnya tahun 1998 Golkar masih bisa selamat dan bermetamorfosis kemudian menjadi Partai Golkar.
Menurut direktur eksekutif Poltracking Hanta Yudha dalam wawancara disalah satu stasiun TV menyatakan “tertangkapnya Novanto tentu memberikan efek kepada tingkat keterpilihan namun itu tidak besar”ujarnya, kenapa demikian karena Partai Golkar memang tidak membasiskan jatung kekuatan elektoralnya pada figur dan menjanjikan “Bersih dan Anti KORUPSI” sebagai isu utama dalam meraup suara dua aspek ini lah yang membuat partai golkar tidak remuk redam.
Golkar kata Hanta sudah masuk “zona normalisasi” partai. Kemakluman/kemahfuman public relative lebih tinggi pada partai Golkar ketika tertimpa kasus korupsi dibanding partai lain.


Faktor Internal

Kalau factor eksternal kurang memberi pengaruh terhadap partai, Namun yang menjadi masalah menurut Hanta Yudha Justru internalnya, karena tantang di Partai Golkar Sendiri Justru turbulensi internalnya yakni pertarungan antar faksi yang bisa melemahkan dan merugikan bagi partai golkar.
Setelah setnov tertangkap, maka muncullah beberapa nama yg akan menjadi ketua umum partai Golkar dimunas yang akan datang diantaranya :

1. Nurdin Halid

Inilah kandidat yang menurut saya paling layak menggantikan setnov, saya menempatkan Nurdin Halid di urutan pertama bukan tanpa alasan NH ankronim namanya pernah memimpin organisasi dari dalam penjara. Artinya beliau teruji walau dalam jeruji. Dan tak sedikit pemimpin besar dunia lahir dari penjara. Dipastikan jika NH dipilih tentu akan dapat mengembalikan kejayaan partai Golka.

2. Idrus Marham

Mantan ketua KNPI ini juga tak bisa dipandang sebelah mata, riwayat organisasi yang mumpuni dan jejang kaderalisasi bottom to up tak bisa ditampik akan menempati urutan kedua dalan perburuan kursi panas ini . Dua kali jabatan sekjen adalah pembuktian kesetiaan idrus terhadap partai. Dan posisi sekjen adalah jantungnya organisasi.Sampai-sampai beliau harus rela melepas kursi DPR RI, jabatan yang sangat prestisius di negeri ini.

3. Airlangga hartarto

Adalah politisi paling berkibar setelah kedua nama diatas.hal ini dibuktikan dari kedudukan beliau saat ini yang merupakan satu-satunya perwakilan partai Golkar yang duduk dalam kabinet. Bahkan kabar terakhir bahwa istana menginginkan sang mentrilah yang harus menjadi ketum, agar koalisi dengan pemerintaha sekarang bisa berjalan langgeng bin akur.

4. Ade Komaruddin

Kang ade menempati posisi ke 4 dalam perebutan ini, pada munas yang lalu merupakan kandidat terkuat kedua setelah Setnov.merupakan politisi senior partai golkar dengan jabatan sebagai ketua salah satu sayap partai maka dipastika kang Ade layak menjadi salah satu kandidat apalagi hampir dipastikan testu RI 2 ditangannya.
5. Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Suharto
sepertinya yang terakhir ini juga berpeluang besar untuk menduduki kursi panas ketum Golkar, pasalnya nama besar yang disandang dibelakang namanya merupakan Presiden kedua Republik Indonesia, sekaligus orang yang sangat berjasa terhadap partai Golkar. bahkan titiek menyebut akan mengembalikan golkar kembali ke akarnya (cendana)
Politik berjalan dinamis, kita masih belum tau apa yang terjadi kedepannya, memang menarik tarik menarik kepentingan di internal partai berlambang beringin ini, partai berpengalaman tentu punya 1001 cara untuk menyelesaikan problematikanya.

Hardiman W
Mahasiswa pasca sarjana Ilmu Politik Unhas.





0 Komentar