Judul: Warisan Arung Palakka
Penulis: Leonard Y Andaya
Penerbit: Inninawa
Tahun Terbit: 2004
Tebal: 432

Salah satu epos terbesar dari Sulawesi Selatan yang begitu kuat menancap dalam benak orang-orang Bugis Makassar adalah peristiwa yang kemudian dikenal dengan “Perang Makassar”. Perang ini memberi dampak yang luas pada lanskap ekonomi-politik dan demografi Sulawesi Selatan.

Perang yang terjadi pada paruh abad ke-17 itu, tidak hanya melibatkan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan bahkan sampai ke mancanegara, termasuk keterlibatan VOC dalam menancapkan pengaruhnya di Nusantara.

Hal inilah yang digambarkan dengan sangat baik dan detail oleh seorang Leonard Andaya dalam buku yang berjudul Warisan Arung Palakka. Penulis kelahiran Hawaii 1942 ini  seorang profesor sejarah Asia Tenggara dari University of Auckland, Selandia Baru.

Buku dengan tebal 432 halaman ini mencoba mendudukan kiprah Arung Palakka dalam sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-17 secara objektif. Buku ini ditunjang dengan sumber-sumber yang cukup meyakinkan, seperti berbagai manuskrip pada perpustakaan Universitas Leiden, lontar Bugis maupun Makassar, wawancara, serta karya-karya yang terbit sebelumnya.

Andaya merasa perlu untuk meluruskan kembali beberapa hal yang belum diungkap sejarawan-sejarawan lokal, sebagaimana dikatakannya dalam pendahuluan, Dewasa ini, masih banyak orang Makassar yang mengenang  kejatuhan Gowa dengan perasaan getir. Meraka menganggap bahwa sebuah kerajaan “indonesia” sejati telah dikhianati oleh kelompok “indonesia” lainnya, dan menjadikan Belanda, Sang “Kolonial” sebagai pemenang utamannya. Arung Palakka yang orang Bugis telah bersekutu dengan kompeni dan oleh karena itu dianggap sebagai pengkhianat.

Andaya melihat beberapa kalangan masih menempatkan peristiwa kerja sama VOC-Bone ini dalam melawan Gowa sebagai sebuah pengkhianatan terhadap saudara sendiri.

Profesor sejarah ini mencoba memaparkan lebih jernih dan komprehensif mengenai peristiwa yang terjadi serta dinamika persekutuan dan konflik antar kerajaan di Sulawesi Selatan.

Semua kerajaan di Nusantara berusaha berebut pengaruh, menapaki jalannya masing-masing dengan strategi dan taktik yang beragam, begitu pula yang terjadi di Sulawesi Selatan. Sebelum dominasi Gowa, ada dua kerajaan yang cukup kuat di Sulawesi Selatan, yakni Luwu yang menguasai pantai timur dan Siang yang menguasai pantai barat.

Namun, sejak Gowa memindahkan bentengnya ke pesisir (Benteng Somba Opu) di bawah raja Gowa ke-10, Tunipallangga, ada "nafsu" untuk menguasai seluruh kawasan Sulawesi Selatan khususnya di pantai barat.

Gowa menaklukkan Kerajaan Siang yang notabene merupakan kerajaan terkuat di pantai barat Sulawesi Selatan dan menguasai pelabuhannya di Bacukiki.

Di tengah konflik yang mendera di antara kerajaan-kerajaan tersebut, tahun 1660 VOC mengadakan ekspedisi dan pasukan Belanda berhasil merebut salah satu pelabuhan Gowa, yakni Pelabuhan Panakukang. Seperti yang dinyatakan Andaya berikut ini:
Menurut notitie yang ditulis Speelman, Sultan Hasanuddin raja Gowa Ke-16 menyalahkan Karaeng Summanna atas kekalahan Gowa tersebut. Sebagai hukuman dari kekalahan yang memalukan ini, Sultan Hasanuddin memindahkan kekuasaan Karaeng Sumanna atas Bone ke tangan Karaeng Karunrung.  Dengan kedudukan baru ini, Karaeng Karunrung memerintah 10.000 orang Bugis untuk menggali kanal.

Penggalian kanal yang membutuhkan puluhan ribu pekerja ini dimobilisasi dari kerajaan-kerajaan taklukan Gowa, terutama dari Bone dan Soppeng. Termasuk, Arung Palakka sendiri yang tertawan di Somba Opu. Begini Andaya menjelaskanya:
Arung Palakka menyaksikan kekejaman para penjaga terhadap rakyatnya hingga suatu hari seorang pekerja Bugis mencoba melarikan diri namun tertangkap dan dipukuli di depan Arung Palakka.

Perlakuan yang sewenang-wenang terhadap rakyat Bone mendorong Arung Palakka untuk merencanakan pemberontakan terhadap Gowa.

Namun, karena kekuatan yang kecil dan terpecah-pecah sehingga perlawanan Arung Palakka mudah dipatahkan. Inilah yang memaksa Arung Palakka untuk meninggalkan tanah Sulawesi dan berjanji akan kembali untuk menegakkan siri.

Sebelum ke Batavia, Arung Palakka bersembunyi di Buton. Pasukan Makassar sempat mengejarnya, tetapi Arung Palakka berhasil lolos dan masuk ke Batavia.

VOC sepertinya satu-satunya harapan Arung Palakka untuk membalas tindakan Gowa selama ini. Arung Palakka bekerja sama dengan VOC dan berencana menyerang Makassar jika dirasa sudah cukup kekuatan. Akhirnya, pada suatu pagi, 24 November 1666, dimulailah penyerangan Gowa oleh VOC dibantu Arung Palakka.

Perang Makassar digambarkan secara detail di buku ini, penyerangan dari laut dan darat terus-menerus dilakukan tanpa henti hingga Sultan Hasanuddin menyerah, dan dipakasa untuk menanda-tangani Perjanjian Bongaya.

Dengan ditanda-tanganinya perjanjian tersebut, praktis kekuasaan beralih ke tangan Arung Palakka dan Kompeni yang selanjutnya mengonsolidasikan seluruh kekuatan di Sulawesi Selatan.

Peristiwa kelam ini menandai jatuhnya Benteng Somba Opu; benteng terakhir dari kerajaan Gowa akibat serangan yang dilakukan oleh gabungan pasukan Kompeni-Arung Palakka dan beberapa sekutu bugisnya.

Harus diakui hingga kini, masih banyak kalangan yang masih menyalahpahami tentang berbagai peristiwa sejarah khususnya pra kemerdekaan Republik Indonesia.
Politik devide at impera yang dijalankan oleh VOC memang terbukti efektif mengadu domba kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Buku ini salah satu buku sejarah yang cukup baik membahas Sulawesi Selatan selama abad ke-17 dan memberi alternatif pembacaan sejarah sehingga kita bisa melihat secara lebih objektif dan berimbang.

Seperti yang dikatakan founding fathers Soekarno, “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah.(BK)

0 Komentar