Sebagai seorang yang terbiasa melihat anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), saya kadang kebingungan melihat angka-angka yang dipaparkan. 

Kadang saya sampai harus memelototkan mata agar bisa mengamati secara saksama apa yang ditampilkan data tersebut, khususnya kebijakan umum anggaran-prioritas (KUA-PPAS). Wajar dengan anggaran yang begitu besar dan peruntukan yang begitu banyak, membuat kita kadang kebingungan.

Beberapa hari ini isu anggaran pembelian lem Aibon menjadi trending topic di twitter, salah seorang anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia, William Aditya Sarana, menemukan kejanggalan pembelian lem Aibon sebesar Rp.82,8 Miliar.

Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan menuding William mencari panggung setelah anggota DPRD DKI termuda tersebut mengunggah sejumlah kejanggalan dalam rancangan APBD 2020. Anis Bahkan berkilah bahwa kejanggalan tersebut bisa terjadi karena sistem perencanaan anggaran elektronik e-budgeting DKI Jakarta yang masih belum cerdas. Alhasil, menurut Anis, sistem itu tak mendeteksi kesalahan yang dibuat manusia.

Anis juga mengaku permasalahan salah input dengan anggaran yang janggal tersebut sudah biasa terjadi dari tahun ke tahun. Anis bahkan cenderung menyalahkan sistem yang sudah ada. 

Menanggapi hal tersebut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahya Purnama pada laman suara.com mengatakan,  “Sistem itu berjalan baik jika yang input datanya tidak ada niat mark up apalagi maling, ujar Ahok saat dihubungi, Kamis (31/10/2019).”

Pada april 2017, Badan Perencananan Nasional (Bapenas) memberikan penghargaan kepada sistem penganggaran milik Pemerintah Provinsi DkI Jakarta ini sebagai salah satu inovasi perencanaan terbaik di Indonesia.

Dalam sistem itu kita bisa memantau anggaran secara online lewat situs apbd.jakarta.go.id, sehingga dana publik dapat terpantau peruntukannya, juga hal ini tentu bisa meminimalisir korupsi.

Era Digital

Terlepas dari perdebatan diatas, saat ini sudah menjadi kebutuhan di setiap aspek kehidupan manusia harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Menurut Harari, manusia memiliki dua jenis kemampuan, fisik dan kognitif.  Di masa lalu, mesin bersaing dengan manusia terutama dalam kemampuan fisik kasar, sementara manusia mempertahankan keunggulan besar atas mesin dalam hal kognisi.

Namun, Artificial Intelligence (AI) sekarang mulai mengungguli manusia dalam lebih banyak keterampilan, sangat penting untuk menyadari bahwa revolusi AI bukan hanya tentang komputer yang semakin cepat dan pintar. Itu juga dipicu oleh terobosan sains kehidupan dan sains sosial. Lanjutnya.

Kehadiran e-budgeting, e-planning, e-musrenbang sudah harus menjadi  program pemerintah secara menyeluruh agar bisa mengejawantahkan apa yang kemudian disebut sebagai transparansi dan akuntabilitas. Jika ini tidak dikembangkan, maka kita masih akan berjalan seperti kebiasaan lama dan tidak sesuai dengan visi dan misi Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

Seharusnya di era digital seperti sekarang ini menjadi keharusan pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah untuk menata sistem penganggaran ke ranah digital sehingga bisa diakses oleh publik.

Pelaksanaan program seperti ini sudah merupakan satu indikator bahwa pemerintah tersebut tidak menutup diri, semua informasi, terutama yang dibutuhkan publik dapat diakses secara langsung.

Konsekuensi Keterbukaan 

Akses terhadap informasi utamanya informasi publik tentu menyehatkan demokrasi, keterbukaan akan membawa partisipasi yang luas terutama pengawasan.

Agak sulit dipaksakan pemerintahan model tertutup seperti dahulu ditengah perkembangan teknologi yang semakin massif, mengutip Eka Kurniawan dalam reviewnya tetang Novel 1984 karya George Orwel “kalau dahulu bisa jadi kita masih tertawan dengan model negara Orwellian yang terpusat. Bahkan tindakan, kata-kata bahkan pikiran kita terpantau. Namun,  lanjutnya, “situasi sekarang ini jauh berbeda, tak ada sosok maupun sistem tunggal bernama Big Brother. Yang ada adalah masyarakat, negara, kapital atau siapa pun, saling mengawasi satu sama lain.”

Dengan kata lain, yang kita hadapi bukanlah kekuasaan terpusat, tapi kekuasaan yang memencar terus-menerus mencari perimbangan dalam dirinya, jika harus dibayangkan, dunia Orwellian itu seperti dunia dimana moncong senapan ada di mana-mana dan dikendalikan kekuasaan. 

Dunia sekarang, kita seperti mengahadapi situasi dimana semua orang diberi senapan dan senapan itu bisa mengarah kesiapa pun. Termasuk dalam kasus Lem Aibon yang dengannya kita belajar saling mengawasi.(BK)

0 Komentar