Beberapa hari lalu Agnez mo dalam sebuah wawancara di salah satu TV di Amerika melontarkan pernyataan yang kontroversial, dia mengatakan bahwa dia tidak punya darah Indonesia. Netizen pun sontak merespon negatif pernyataan Agnes Mo tersebut, intinya mereka kecewa Agnez Mo menegasi keindonesianya seolah tidak mencintai tanah airnya.

Bahkan beberapa politisi menggapnya tidak nasionalis dan membandingkannya dengan Miyabi yang walaupun bukan orang indonesia tapi mendukung timnas U-23 dalam ajang Sea Games. Tulisan ini mencoba menilai pernyataan agnes tersebut  dengan menilai kembali sejauh mana nasionalisme kita, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi ukuran segala sesuatu.

Agnez merespon pertanyaan pemandu acara tersebut dengan spontanitas, mengungkap asal-usulnya dengan gaya yang blak-blakan mengatakan dia tak berdarah Indonesia, tetapi berdarah campuran, Jerman, Jepang dan Cina.

Menanggapi respon negatif, Agnez tidak tinggal diam dan mengklarifikasi hal tersebut, dengan mengatakan bahwa video tersebut dipotong dan tidak menempatkan seluruh argumennya sesuai dengan konteks, dia mengecam orang-orang yang menilainya tidak nasionalis, menurut Agnez “kalau saya tidak cinta Indonesia, ngapain saya promosikan budaya indonesia selama ini”.

Darah memang tidak punya ukuran karena itu adalah genetika dan negara-bangsa merupakan hasil konstruksi sosial, jadi seharusnya bisa dibedakan ketika kita menyebut “darah”, “negara-bangsa” atau “ras”.

Penelitian DNA baru-baru ini yang diadakan majalah media daring Historia.id yang meneliti DNA sejumlah relawan, menyatakan bahwa tidak ada manusia asli Indonesia, dan hampir semua berasal dari luar kepulauan Nusantara.

Pertanyaanya kemudian kenapa kita akhir-akhir ini getol menjadi hakim terhadap kadar nasionalis seseorang?

Bangsa memang sebuah konsep, Ariel Heryanto Profesor The Australian National University dalam sebuah kuliah umum mengatakan bahwa semua terjadi karena obsesi akan kemurnian. Kerinduan akan yang asli atau keinginan kembali kepada yang murni.

Obsesi kepada kemurnian ini berkonsekuensi kepada hilangnya toleransi terhadap perbedaan, semua memakai kacamata benar-salah, dan sepertinya tidak ada jembatan yang mempertemukannya.

Kegagalan globalisasi mungkin bisa jadi penyebabnya. Hal itu memungkinkan tumbuh suburnya populisme dan mengerasnya berbagai ideologi-ideologi yang pernah hadir.

Lihat saja Amerika serikat yang selama ini getol mempromosikan globalisasi, di bawah pemerintahan Donald Trump justru berbalik ke isolasionisme-nasional dengan slogan “Make America Great Again”, juga membangun tembok untuk menghalangi Imigran terutama dari Mexico untuk masuk. Tidak jauh berbeda dengan kasus inggris dengan Brexit.

Respon terhadap kegagalan globalisasi ini, mengambil rupa yang beragam dan berbagai bentuk, di Indonesia tergambar dalam kontestasi pemilu beberapa waktu lalu.

Politik identitas begitu mengemuka, antara yang menganggap diri pancasilais dan yang dianggap non-pancasilais, antara yang beragam dan seragam. Walaupun di akhir kontestasi pemilu justru kedua kubu berangkulan.

Kata radikalisme menjadi semacam sarapan sehari-hari untuk membungkam kelompok-kelompok yang dianggap “radikal”, kata radikal begitu fasih diucapkan dimana-mana.

Semua berharap ada alternatif di tengah ketidakpastian dan krisis kapitalisme global, apa yang berkembang kemudian adalah sejenis romantisme kepada apapun yang lebih dianggap baik pada masa yang lalu.

Lantas bagaimana sebenarnya nasionalisme kita? Bung Karno menjelaskan Panjang lebar soal hal ini, Pertama, menurut-nya nasionalisme Indonesia itu anti penjajahan, jadi sementara nasionalisme eropa khususnya jerman berkecenderungan menjajah, nasionalisme Indonesia itu berkarakter defensif.

Kedua, nasionalisme kita tidak chauvinistik atau sempit, nasionalisme Indonesia tidak pernah mengagungkan darah atau ras tertentu, nasionalisme yang menggap bahwa semua manusia sama, atau nasionalisme kita itu tak lain dan tak bukan adalah humanisme.

Ketiga, nasionalisme Indonesia itu progresif, atau selalu berpandangan maju, sebagaimana bung karno berpidato di hadapan sidang PBB tentang pentingnya menggalang bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memerdekakan diri dari penjajahan.

Dari ketiga hal diatas, sebenarnya kontroversi Agnez Mo yang seolah dianggap tidak nasionalis tidak ada relevansinya sama sekali, bahkan mungkin kadar nasionalisme Agnez Mo mungkin diatas rata-rata orang Indonesia yang katanya berdarah”asli” itu.

Pancasila dan Bhineka tunggal ika telah menjadi falsafah bangsa Indonesia, seharusnya hal itu mesti menjadi kekayaan yang tidak ternilai dari bangsa Indonesia yang kita harus jaga kuat-kuat.



0 Komentar